12 February 2010

Selamat Tahun Baru Cina

Selamat pagi semua....2 hari lagi sahabat2ku dari kaum Cina akan menyambut Tahun Baru Cina. Sebelum terlambat ingin saya mengucapkan Selamat Tahun Baru Cina kepada sahabat2ku. Bagi sahabat2ku yang tidak menyambut Tahun Baru Cina, yang balik kampung halaman, drive hati2 dan dapat menghabiskan cuti sebaik2nya. Semoga sukses semuanya...amin.

26 December 2009

FESTIVAL PEMBANGUNAN USAHAWAN MELAYU PERINGKAT ZON SELATAN

Salam
 
Dengan segala hormatnya adalah dimaklumkan DPMM akan menganjurkan Festival Pembangunan Usahawan (Zon Selatan) seperti maklumat berikut:-
 
Tarikh    : 8-10 Januari 2010
Tempat :Dewan Jubli Intan, Muar Johor.
Masa     : 10.00 pagi - 10.00 malam
 
Festival tersebut akan dirasmikan oleh YAB Tan Sri Muhyiddin Yassin, Timbalan Perdana Menteri Malaysia. 
Sebarang pertanyaan lanjut sila hubungi Cik Hidayah di talian 03-2096 2233/2096 1011.

04 November 2009

Sejarah Singkat Imam Syafi'e

Nama dan Nasab

Beliau bernama Muhammad dengan kun-yah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau , yaitu Hasyim bin al-Muththalib.
Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi‘, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi‘i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi‘, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah saw. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.
Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi‘i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi‘i bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’ saja.
Adapun ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kun-yah Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath.
 

Waktu dan Tempat Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada tahun 150H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.
Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.
Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman). Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan.
 

Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu

Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi‘i bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.
Setelah rampung menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.
Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin ‘Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fiqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.
Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-‘Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi’ –yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin ‘Uyainah –ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin ‘Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa’ Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.
Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa’. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa’ yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, ‘Abdul ‘Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Isma‘il bin Ja‘far, Ibrahim bin Sa‘d dan masih banyak lagi.
Setelah kembali ke Mekkah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan –satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi tenar karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan ketenarannya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.
Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafi‘i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani ‘Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani ‘Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan ‘Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang ‘Alawiyah yang sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim. Dan hal itu menggoreskan rasa sedih yang mendalam pada kaum muslimin secara umum dan pada diri Imam Syafi‘i secara khusus. Dia melihat orang-orang dari Ahlu Bait Nabi menghadapi musibah yang mengenaskan dari penguasa. Maka berbeda dengan sikap ahli fiqih selainnya, beliau pun menampakkan secara terang-terangan rasa cintanya kepada mereka tanpa rasa takut sedikitpun, suatu sikap yang saat itu akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang sangat sulit.
Sikapnya itu membuatnya dituduh sebagai orang yang bersikap tasyayyu‘, padahal sikapnya sama sekali berbeda dengan tasysyu’ model orang-orang syi‘ah. Bahkan Imam Syafi‘i menolak keras sikap tasysyu’ model mereka itu yang meyakini ketidakabsahan keimaman Abu Bakar, Umar, serta ‘Utsman , dan hanya meyakini keimaman Ali, serta meyakini kemaksuman para imam mereka. Sedangkan kecintaan beliau kepada Ahlu Bait adalah kecintaan yang didasari oleh perintah-perintah yang terdapat dalam Alquran maupun hadits-hadits shahih. Dan kecintaan beliau itu ternyata tidaklah lantas membuatnya dianggap oleh orang-orang syiah sebagai ahli fiqih madzhab mereka.
Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu digelandang ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang ‘Alawiyah. Beliau bersama orang-orang ‘Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafi‘i berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqih Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majelis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan ‘Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.
Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Ra’yu. Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Isma‘il bin ‘Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal.
Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi‘i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul, penjelasan tentang nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.
Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Irak untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok Ash-habul Hadits merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi oleh Ahlu Ra’yi. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami ‘ al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra ‘yu. Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja.
Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.
Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Irak. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafi‘i adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam. Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj as-salaf ash-shaleh –yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Karena itulah beliau menolak madzhab mereka.
Dan begitulah kenyataannya. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Alquran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafi‘i kemudian memutuskan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhirnya beliau menemui akhir kehidupannya di sana.
 

Keteguhannya Membela Sunnah

Sebagai seorang yang mengikuti manhaj Ash-habul Hadits, beliau dalam menetapkan suatu masalah terutama masalah aqidah selalu menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagai landasan dan sumber hukumnya. Beliau selalu menyebutkan dalil-dalil dari keduanya dan menjadikannya hujjah dalam menghadapi penentangnya, terutama dari kalangan ahli kalam. Beliau berkata, “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain.” Karena komitmennya mengikuti sunnah dan membelanya itu, beliau mendapat gelar Nashir as-Sunnah wa al-Hadits.
Terdapat banyak atsar tentang ketidaksukaan beliau kepada Ahli Ilmu Kalam, mengingat perbedaan manhaj beliau dengan mereka. Beliau berkata, “Setiap orang yang berbicara (mutakallim) dengan bersumber dari Alquran dan sunnah, maka ucapannya adalah benar, tetapi jika dari selain keduanya, maka ucapannya hanyalah igauan belaka.” Imam Ahmad berkata, “Bagi Syafi‘i jika telah yakin dengan keshahihan sebuah hadits, maka dia akan menyampaikannya. Dan prilaku yang terbaik adalah dia tidak tertarik sama sekali dengan ilmu kalam, dan lebih tertarik kepada fiqih.” Imam Syafi ‘i berkata, “Tidak ada yang lebih aku benci daripada ilmu kalam dan ahlinya” Al-Mazani berkata, “Merupakan madzhab Imam Syafi‘i membenci kesibukan dalam ilmu kalam. Beliau melarang kami sibuk dalam ilmu kalam.”
Ketidaksukaan beliau sampai pada tingkat memberi fatwa bahwa hukum bagi ahli ilmu kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, lalu dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling di antara kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahwa itu adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Alquran dan Sunnah dan memilih ilmu kalam.
 

Wafatnya

Karena kesibukannya berdakwah dan menebar ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.
Ar-Rabi menyampaikan bahwa dia bermimpi melihat Imam Syafi‘i, sesudah wafatnya. Dia berkata kepada beliau, “Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah ?” Beliau menjawab, “Allah mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku mutiara-mutiara yang halus”
 

Karangan-Karangannya

Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat.
Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan ar-Risalah al-Jadidah (yang telah direvisinya) mengenai Alquran dan As-Sunnah serta kedudukannya dalam syariat.
 

Sumber :
1. Al-Umm, bagian muqoddimah hal 3-33.
2. Siyar A‘lam an-Nubala’
3. Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi‘, terjemah kitab Manhaj al-Imam Asy-Syafi ‘i fi Itsbat al-‘Aqidah karya DR. Muhammad AW al-Aql terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi‘i, Cirebon.



Sumber: http://muslim.or.id/?p=9

29 October 2009

Renung-renungkan.....


Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, 'Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya.. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.' Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.
 
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar adanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. 'Rasulullah akan meninggalkan kita semua,' keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.
 

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 'Bolehkah saya masuk?' tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, 'Maafkanlah, ayahku sedang demam,' kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, 'Siapakah itu wahai anakku?'

'Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,' tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. 'Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,' kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
 
'Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?' Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. 'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ' kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. 'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?' Tanya Jibril lagi. 'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?' 'Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.
 
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. 'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.' Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. 'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?' Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. 'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. 'Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. 'Badan Rasulullah mulai dingin , kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya 'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku', peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.' Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.'Ummatii, ummatii, ummatiii?'

'Umatku, umatku, umatku' Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
 
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin....

08 October 2009

Cabaran Bencana Alam dan Sikap Muslim Dalam menghadapainya


Majlis Ugama Islam Singapura


Khutbah Jumaat

9 Oktober 2009 / 20 Syawal 1430

Cabaran Bencana Alam Dan Sikap Muslim Dalam Menghadapinya





Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah sama-sama kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah

dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Mudah-mudahan kita menjadi hamba yang bertakwa dan sentiasa mengerjakan

kebaikan dan amal soleh. Semoga dengannya, kita mendapat kemuliaan dan

kejayaan hakiki, Amin.



Sidang Jumaat Yang Dirahmati,

Islam menyeru kita agar membuka segala pancaindera; penglihatan,

pendengaran dan yang lain, agar kita sentiasa melihat sekeliling dan

memahami alam dan dunia kehidupan kita. Keagungan dan kebesaran alam

ciptaan Allah s.w.t. pasti tampak jelas bagi mereka yang merenunginya.

Di sebalik kehebatan dan keagungan ciptaan Tuhan, tampak kecil dan

kerdilnya kita sebagai manusia. Firman Allah s.w.t di dalam surah Yunus

ayat ke 101,

Maksudnya: Katakanlah (wahai Muhammad s.a.w), perhatikanlah apa yang

ada di langit dan di bumi (yang membuktikan kekuasaan Allah), dan

tidaklah ia dapat memberi faedah kepada orang-orang yang tidak beriman.

Saudaraku sekalian,

Wujudnya kita tidak dapat dipisahkan dari alam sekeliling. Bahkan,

keadaan kehidupan kita sangat terkait dengan setiap perubahan yang

berlaku padanya. Bayangkan betapa kita perlu menyesuaikan diri apabila

cuaca menjadi semakin panas, atau hujan turun menyebabkan banjir. Lihat

bagaimana kehidupan sesuatu masyarakat berubah dengan dasarnya apabila

paras air laut mula meningkat, seperti yang menjadi keprihatinan di

kepulauan Maldives. Kerana itu, di antara tanggungjawab kita sebagai

Muslim adalah untuk menjaga alam sekitar dengan sebaik-baiknya.

Contohnya, kita dilarang membazir sumber-sumber alam semulajadi, seperti

air, tenaga dan sebagainya. Nabi s.a.w pernah bersabda kepada Saad bin

Abi Waqqas ketika beliau berwudhu' yang bermaksud, "Pembaziran apakah

ini wahai Saad? Lalu beliau bertanya, "Adakah dalam hal berwudhu pun ada

pembaziran? Sabda Nabi s.a.w, "Ya, walaupun kamu berwudhu di tebing

sungai yang mengalir airnya." (Hadis riwayat Ibnu Majah)



Saudaraku sekalian,

Jika kita memerhatikan dengan insaf, kita akan merasakan bahawa

perubahan pada alam sekitar lebih kerap berlaku dewasa ini. Bahkan,

perubahan ini berlaku dengan kesan yang besar pada kehidupan manusia.

Contohnya, sekarang ini, berlaku lebih banyak gempa bumi, tsunami,

banjir, tanah runtuh, wabak penyakit dan lain lagi. Manusia hilang harta

benda, bahkan tidak kurang yang terkorban dalam peristiwa-peristiwa

sedemikian.

Menurut satu kajian yang dibuat oleh World Bank Study, bencana alam

telah meningkat kepada 30% semenjak tahun 1990. Peningkatan ini datang

dari bencana yang berkaitan dengan perubahan cuaca. Kita melihat dan

merasakan sendiri bagaimana berlaku gempa bumi.

Bagi orang-orang yang beriman, ia pasti menginsafkan kita. Keimanan kita

mengajar kita bahawa setiap musibah yang berlaku yang bukan dari

perbuatan manusia sendiri sebenarnya adalah dengan ketentuan Allah

s.w.t. Pergerakan plat tektonik yang menyebabkan gempa, pergerakan awan

tebal yang menurunkan hujan yang lebat, perbezaan tekanan (pressure) di

udara yang menyebabkan tiupan ribut taufan, adalah berlaku dengan

kehendak dan izin Allah s.w.t. Ini berdasarkan firman Allah dalam surah

al-Hadid ayat 22:



Maksudnya: "Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang

ditimpakan dibumi dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah

sedia ada di dalam kitab kami (pengetahuan kami) sebelum kami

jadikannya, sesungguhnya mengadakan yang demikian itu adalah mudah bagi

Allah".

Begitu juga firman Allah s.w.t. di dalam Surah al-An'aam ayat ke 17,



Maksudnya: Dan jika Allah menimpakan kamu dengan bahaya bencana, maka

tidak ada sesiapa pun yang dapat menghapuskannya melainkan Dia, dan jika

Dia melimpahkan kebaikan, maka Dia-lah Maha Kuasa atas tiap sesuatu.

Saudaraku sekalian,

Namun, mungkin kita bertanya, mengapa ia berlaku di suatu tempat,

menimpa satu masyarakat dan negara, dan bukan orang yang lain? Pastinya,

apa yang berlaku adalah ujian untuk menilai tahap keimanan dan

kesabaran seseorang hamba-Nya. Peristiwa sedemikian juga mengajak kita

bermuhasabah diri untuk melakukan perkara-perkara yang tidak

bertentangan dengan perintah Allah. Mereka yang lalai dan lupa kepada

Allah s.w.t., maka ianya sebagai peringatan serta peluang untuk kembali

bertaubat dan mengukuhkan keimanan. Firman Allah s.w.t, dalam surah

al-Baqarah ayat 214:

Maksudnya: "Adakah patut kamu menyangka bahawa kamu akan masuk syurga,

padahal belum sampai kepada kamu ujian dan cubaan seperti yang telah

berlaku kepada orang-orang terdahulu daripada kamu?. Mereka telah

ditimpa kepapaan (kemusnahan harta benda) dan serangan penyakit serta

digoncangkan (oleh ancaman bahaya) sehinggalah berkata rasul dan

orang-orang yang beriman yang ada bersamanya; "Bilakah datangnya

pertolongan Allah? Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu

dekat".

Saudaraku sekalian,

Musibah sedemikian juga menguji tahap persaudaraan kita. Adakah kita

menyayangi mereka yang terjejas seperti mana kita menyayangi diri kita

sendiri? Adakah kita membantu mereka sedaya upaya kita dan mendoakan

mereka? Di sini peranan usaha-usaha kemanusiaan sangat penting. Sebagai

umat Islam, kita perlu sama-sama menyokong dan mendokong segala usaha

tersebut, demi semangat hubungan kemanusiaan yang baik seperti yang

diajarkan Islam.



Begitu juga, musibah sedemikian mengingatkan kita bahawa kehidupan kita

ini, terutama hari ini, penuh dengan ketidak-tentuan. Apa sahaja boleh

berlaku. Makanya, janganlah kita menangguhkan kebaikan yang ingin kita

lakukan. Baginda Rasulullah s.a.w pernah bersabda yang bermaksud, "Jika

berlaku hari kiamat dan di tangan kamu ada sebutir benih, maka

taburkanlah benih itu." (Hadis riwayat Imam Ahmad) Begitu juga, dosa,

kesilapan, dan semua perbuatan yang tidak baik, dan masing-masing kita

mengetahuinya, yang ingin kita tinggalkan, maka janganlah kita

berlengah-lengah untuk meninggalkannya.



Lahirkan rasa kasih sayang dan berbaik-baik dengan orang yang kita

sayangi, ahli keluarga, teman dan sebagainya. Ramai kita yang menyesal

tidak sempat berterima kasih, tidak sempat meminta maaf, tidak sempat

mengatakan kasih dan sayang kepada mereka. Kita juga perlu terus berdoa

kepada Allah agar kita sentiasa dipeliharanya dari musibah dan bala'.



Sidang Jumaat sekalian,

Namun, ada bencana yang berpunca dari perbuatan manusia sendiri.

Contohnya, proses industrialisasi menyebabkan pembakaran karbon lantas

menyebabkan kesan "greenhouse" dan menaikkan suhu darjah dunia. Membakar

hutan juga boleh menyebabkan kerosakan pada alam ini. Sikap penggunaan

sumber-sumber alam dengan boros dan berlebihan juga akan menyumbang ke

arah alam yang semakin sakit dan melarat. Firman Allah s.w.t di dalam

surah al-Rum ayat ke 41 yang bermaksud, "Telah timbul kerosakan di darat

dan di laut dengan sebab apa yang dilakukan oleh tangan manusia."

Oleh itu, sesuai dengan ajaran Islam, kita masih lagi mempunyai

tanggungjawab untuk melakukan yang terbaik. Itulah amanah yang kita

perlu pikul bersama. Bukan sahaja terhadap diri kita dan keluarga,

bahkan kepada alam sekitar yang mana kita menikmati keindahan dan segala

kemudahannya.

Semoga kita menjadi manusia yang bersyukur kepada Allah di atas

nikmat-nikmat ini, lantas menjaga alam ini dengan sebaik-baiknya, sesuai

dengan visi menjadi umat pembawa rahmat buat seluruh alam, Amin.
 
Dikutip dari sumber Islamic-ebook.

01 October 2009

Ustaz Ismail Kamus: (Kesilapan / Ketidak kesempurnaan)

Kesilapan / Ketidak kesempurnaan dalam Ibadat & Amalan

Sejak sekolah rendah hinggalah sekarang, penceramah yg paling diminati dan dikagumi ialah Dato' Ismail Kamus..tak pernah jemu mendengar ceramah beliau..

Berikut adalah bahagian ke-3 himpunan kesilapan / ketidak kesempurnaan dalam ibadat yg dipetik daripada ceramah2 beliau:

1. Selalunya ketika kita sedang berpuasa sunat, apabila ada orang ajak makan kenduri, kita akan menolak..dengan alasan kita sedang berpuasa..sayang sgt nak bukak puasa kononnya nak dapat pahala puasa penuh..Sebenarnya, kalau dlm keadaan macam ni, adalah lebih baik utamakan utk kita bukak puasa dan pergi kenduri ersebut..kerana memperkenankan jemputan itu lebih utama daripada kita meneruskan puasa sunat  tersebut…hmmm, bukak puasa pun boleh dapat pahala lebih..takkan tak nak?

2. Ramai yang menganggap Islam ini hanya pada ibadat sahaja..hukum solat, puasa, haji dijaga sepenuhnya.. tetapi hukum2 yg lain langsung tak mau  ikut cara Islam contohnya bab riba, rasuah, dan sebagainya. Islam itu syumul (menyeluruh).

3. Sesetengah masjid suka bertarhim (baca ayat al-Quran sebelum azan Subuh) dan dilaungkan kuat2 speaker tu sampai satu kampung dengar… kadang2 sejam atau setengah jam sebelum azan dah bunyi dah..HARAM hukumnya kerana mengganggu orang tidur. Kena ambil kira orang di sekeliling tu mungkin ada orang tua, kanak2 baru lahir, orang sakit, orang yg tidur semula selepas bangun tahajjud, dsb…buat apa nak kacau mereka tidur? Yang disyariatkan dalam agama adalah azan Subuh sahaja..kalau nak baca al-Quran pun baca sorang2 cukup..tak payah bagi sekampung dengar…rasa2 macam dapat pahala, rupa2nya dapat bala…Sebenarnya kalau kita sedang baca al-Quran sorang2, tiba2 kawan sebelah kita tertidur, kita kena berhenti membaca al-Quran sebab menghormati orang yg sedang tidur itu..inikan pulak sekampung?? Kalau nak bertarhim kuat2 pun agak2 dalam 10 minit atau 5 minit sebelum azan tu cukuplah..tak payah lama2…sempat la orang nk bangun bersiap2 utk ke masjid..Kalau ada AJK masjid yg baca ni, please advise.
4. Apabila kita hendak sembahyang, tiba2 hidangan makanan dah disediakan, makanlah dulu..ini kerana bimbang kita tak khusyuk dalam sembahyang nanti..begitu juga jika kita terlalu mengantuk, tidurlah dulu baru sembahyang.. tapi dengan syarat masih di awal waktu lah..

5. Sesetengah orang menghadapi masalah ketika hendak bertakbiratul ihram..kadang2 angkat takbir berulang-ulang kali tapi masih tak masuk niat jugak..itu cumalah gangguan syaitan sahaja..memang ada syaitan yg tugasnya khas hanya utk mengacau orang yg sedang bertakbiratul iham sahaja.. pedulikan bisikan syaitan itu, yakin dengan diri sendiri…Berkenaan dengan niat pula; niat itu bukannya dibaca dlm hati, tapi hanya lintasan dalam hati sahaja..jika dibaca, itu yg menyebabkan susah nak masuk sebab panjang sgt nak dibaca..Apa yg dikhuatiri adalah berikut: Jika anda sudah bertakbiratul ihram kali pertama dan andainya ia sudah sah disisi Allah, tapi kemudian anda ragu2 lantas anda turun semula dan takbir utk kali kedua..Takbir kali kedua itu akan menyebabkan solat anda menerusi takbir pertama tadi terbatal..dan jika anda meneruskan solat dengan takbir kedua itu, bermakna anda meneruskan solat dalam keadaan solat yang terbatal..Melainkan anda melakukan takbir kali ketiga.. Jadi kesimpulannya, make yourself firm & confident ketika takbir seelok-eloknya dapat pada takbir pertama & jgn peduli dengan bisikan syaitan..

6. Terdapat segelintir imam yg berdoa selepas solat akan memulakan doa dengan "Hamdan hamidin", "Hamdan zakirin", atau "Hamdan syakirin".. Bunyinya memang sedap, tapi dari segi nahu bahasa arabnya salah…ini  kerana terdapatnya huruf Alif Lam pada perkataan kedua di setiap bacaan tersebut.. Jadi yg sebetulnya harus disebut begini: "Hamdal-hamidin", "Hamdaz-zakirin" dan "Hamdasy-syakirin". (p/s: huruf z adalah huruf zal).

7. Menurut mazhab Shafie, mesti terdapat 7 anggota yg menyentuh tanah ketika kita sedang sujud iaitu dahi, kedua2 tapak tangan, kedua2 lutut dan kedua2 PERUT ibu jari kaki (hidung sunat sahaja)..yang nak ditekankan di sini adalah berkenaan perut ibu jari kaki, bermakna ibu jari kaki mestilah dilentikkan ketika sujud barulah perutnya boleh mencecah tanah..terdapat ramai orang yg kakinya menegak sahaja tanpa dilentikkan.

Ketika sujud..tak sah solat kalau macam tu..lagi satu yg selalu mesti diperhatikan ialah ketika sujud sebelum tahiyat akhir, ada yg dah standby siap2 dah kakinya disilangkan seperti tak sabar2 hendak duduk tahiyat akhir..itu pun tak sah juga solatnya.. berjaga2. .jangan disebabkan hal yg kita anggap remeh camni menyebabkan solat kita tak diterima oleh Allah..

8. Di bulan puasa, orang kita rajin menghantar kuih2 atau juadah2 ke rumah jiran..memang bagus sekali..tapi silapnya di mana? Orang kita selalu mengharapkan dibalas juadah tadi..itulah silapnya..niat dah lari..Kalau menghantar kuih-muih ke rumah sebelah, niatlah kerana Allah..jangan mengharapkan dibalas..kalau dibalas itu rezeki lah..

9. Apabila kita bersolat di tempat yg limited space tapi ramai orang, contohnya di surau R&R, dalam kapal terbang, dan sebagainya, sesudah kita solat, terus aje bangun utk bagi ruang kpd orang lain utk solat..tak payah nak berwirid la, doa panjang2 la, sembahyang sunat ba'diah la, ape la..sebab lebih utama utk kita bagi orang lain peluang utk solat, menunaikan perkara wajib berbanding kita nak buat perkara2 sunat..lebih2 lagi kalau waktu maghrib sebab waktunya pendek..kat R&R ramai orang camni..

10. Menunaikan haji sememangnya adalah rukun bagi kita..tetapi kita kena pandai menyusun keutamaan..contohnya jika kita dah cukup duit nak pergi haji tahun ni, tiba2 ada saudara kita yg jatuh sakit memerlukan kos perubatan yg tinggi, kita kena tangguhkan dulu pergi haji tu..guna duit tu utk membantu saudara kita..itu yg dituntut dalam Islam..

11. Jika kita hendak sembahyang sunat, tiba2 ada tetamu datang rumah, kita kena tangguhkan sembahyang itu dan pergi layan tetamu dulu..itu yg lebih utama..contohnya apabila selesai solat zohor, kita hendak solat ba'diah, tiba2 ada tetamu datang.. tangguhkan solat ba'diah tu dan pergi layan tetamu dulu..selepas dah selesai baru buat solat ba'diah.. dan jika dah tak sempat, solat ba'diah zohor boleh diqada selepas solat asar.. walaupun selepas asar dah tak boleh solat sunat lagi, tetapi jika utk qada solat ba'diah zohor boleh..kerana ini pernah dibuat sendiri oleh nabi..tapi itu pun jika ada hal yg tak dapat dielakkan..kalau saja2 nak qada tak boleh..

Sebagai kesimpulan kepada point2 di atas, kita hendaklah pandai menyusun keutamaan dalam beribadat..utamakan yg lebih utama..jika kita gagal mengutamakan yg lebih utama boleh menyebabkan ibadat kita sia2 sahaja, malah sesetengahnya boleh mengakibatkan dosa pula..

Manusia selalu heboh mencari sesuatu yg bakal ditinggalkan, tak dihebohkan utk menyiapkan sesuatu yg bakal dibawa…..
Renung-renungkanlah...

Hasil nukilan dari Islamic eBook..

14 September 2009

RIAK JADIKAN AMALAN IBARAT DEBU BERTERBANGAN

RIAK JADIKAN AMALAN IBARAT DEBU BERTERBANGAN

ADAKAH rahsia yang tersimpan di antara diri kita dengan Allah Taala? Menyembunyikan amal kebaikan dari pengetahuan orang lain. Sungguh berat untuk dilakukan kerana lumrahnya manusia memang suka kepada puji-pujian. Berbeza jika seseorang itu melakukan kejahatan, dia akan bersusah-payah menyembunyikan kejahatannya itu daripada pandangan manusia.


Bersyukurlah kerana Allah SWT menghijab segala aib kita daripada mata manusia. Apakah rahsia yang anda sembunyikan itu? Jika ia suatu kejahatan, maka banyakkanlah istighfar, kalau rahsia itu adalah amal ibadat yang ikhlas, maka bersyukurlah kerana Allah SWT menunjukkan diri anda.


Al-Shaikh Muhammad Salih Al-Munajjid menukilkan dalam kitabnya Silsilah A’mal al-Qulub: "Imam al-Mawardi menghasilkan penulisan yang banyak dalam bidang tafsir al-Quran, fiqah dan cabang ilmu lainnya. Namun tiada satu pun karyanya yang diterbitkan semasa hidupnya, melainkan ketika saat akhir hayatnya. Beliau berkata kepada sahabatnya "Semua buku itu adalah hasil karyaku, aku berwasiat kepadamu jika aku sedang menghadapi nazak, letakkanlah telapak tanganmu pada telapak tanganku. Jika aku menggenggamnya ketahuilah bahawa tidak ada satu pun daripada hasil tulisanku itu diterima oleh Allah Taala. Bawalah buku-buku itu ke sungai Tigris dan campakkanlah ia semua ke dalamnya. Sebaliknya, jika aku membuka tanganku, maka ketahuilah bahawa semuanya diterima Allah Taala sebagaimana yang kudambakan dari-Nya." Ternyata Imam al-Mawardi membuka tangannya dan sesuai dengan wasiatnya buku beliau telah diterbitkan.


Cukuplah hanya Allah SWT yang tahu segala amal baik yang dilakukan. Ini bukan bermakna kita tidak boleh menghebahkan amal berkenaan. Ia tidak salah jika diniatkan untuk memberi teladan kepada orang lain dan supaya syiar Islam dapat dijadikan contoh manusia seluruhnya. Tetapi bagaimana dengan risiko sifat riak yang merosakkan amal?


Jika kita tidak mahu terjebak oleh penyakit berbahaya ini, sebaiknya kembalilah mengulang kaji pelajaran ikhlas yang pernah membuat Saidina Abu Hurairah RA amat tertekan ketika menyebut tentang hadis Rasulullah SAW berikut ini. Dikatakan bahawa beliau kerap menangis kerana takut ketika membacakannya.


Sabda Rasululllah SAW yang bermaksud: "Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan hukumannya pada hari kiamat kelak ialah seorang lelaki yang mati syahid, dia akan dihadapkan kepada Allah SWT, kemudian Allah SWT mengingatkannya akan nikmat yang pernah dianugerahkan kepadanya sewaktu di dunia dulu, maka dia pun kembali mengingatinya, kemudian Allah Taala bertanya "Apa yang engkau lakukan dengan nikmat yang Aku anugerahkan kepadamu? Ia menjawab "Nikmat itu saya pergunakan untuk berperang kerana membela agamaMu sehingga aku mati syahid. Allah SWT berfirman "Engkau dusta! Engkau telah berperang dengan tujuan supaya disebut sebagai orang yang berani (pahlawan) dan perkara itu telahpun diperkatakan orang sebegitu ke atas mu." Kemudian dia diheret di atas mukanya dan dicampakkan ke dalam neraka.



Kemudian dihadapkan pula seorang yang alim, dia mengajar ramai manusia dan banyak membaca al-Quran. Allah SWT bertanya "Apakah yang engkau telah lakukan dengan nikmat-ku itu? Ia berkata "Aku belajar ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain dan banyak membaca al-Quran demi keredaan-Mu. Allah berfirman "Engkau dusta! Sebenarnya engkau belajar dan mengajarkan ilmu supaya disebut sebagai orang alim, dan engkau membaca Al-Quran supaya mendapat gelaran Qari’ dan semua itu telahpun disebut orang sebegitu kepadamu." Orang itu kemudian diheret dan dihumban ke dalam neraka.


Kemudian dihadapkan pula orang yang dermawan yang diluaskan rezekinya oleh Allah Taala dengan pelbagai macam harta benda. Kemudian Allah bertanya "Apa yang engkau telah lakukan ke atas nikmatKu? Ia menjawab "Tiada satu jalan pun yang Engkau suruh supaya diberikan derma kepadanya kecuali saya telah dermakan harta saya di sana. Allah SWT berfirman "Engkau dusta! Engkau menderma supaya disebut sebagai orang yang dermawan dan ia telahpun disebut orang begitu kepadamu. Kemudian ia diheret ke neraka." Hadis riwayat Imam Muslim

Bolehkah kita terhindar daripada niat yang lain selain untuk Allah SWT? Betapa ruginya jika amal itu bagai debu yang berterbangan. Firman Allah Taala yang bermaksud "Dan kami tunjukkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan." (Surah Al-Furqan: Ayat 23).

Hasutan syaitan ke atas orang yang beramal tidak akan berhenti. Adakalanya kita berasa malas melakukan ibadat kerana ada bisikan yang mengatakan "Untuk apa beramal jika hati tidak ikhlas, tentu tidak diterima oleh Allah."